Pertanyaan ini tentunya lebih tepat ditanyakan kepada mereka yang pertama memutuskan hubungan, bukan mereka yang diputuskan hubungannya. Ada banyak sebab, alasan, atau pertimbangan mengapa seseorang mengambil keputusan untuk menghentikan suatu hubungan. Dalam dunia nyata, seringkali pengambilan keputusan untuk memutuskan suatu relationship lebih banyak menghasilkan suatu kekecewaan ketimbang apa yang disebut sesuatu yang lebih baik. Tulisan ini merupakan hasil interview dari beberapa pihak yang penulis definisikan sebagai pihak yang mengaku memutuskan suatu hubungan.
Suatu keputusan untuk menghentikan relationship memiliki dua pengertian yang perlu dipahami terlebih dahulu. Pengertian pertama, pemutusan hubungan kedua belah pihak yang sifatnya sementara. Kejadian seperti ini bisa didasarkan atas kesepakatan di antara kedua belah pihak ataupun tanpa melalui kesepakatan, atau lebih tepat hanya didasarkan pada keputusan sepihak. Pengertian kedua, pemutusan hubngan di antara kedua belah pihak yang sifatnya permanen. Pada pengertian kedua ini, bisa atas dasar kesepakatan di antara kedua belah pihak, bisa pula tidak ada kesepakatan sama sekali. Apapun bentuknya, kemungkinan berubahnya pikiran untuk kembali kepada masa lalu akan selalu terbuka.
Pada kebanyakan kasus, pemutusan hubungan relationship lebih banyak didasarkan pada pertimbangan yang bersifat emosional. Konflik yang mendasarinya pun seringkali bersifat insidensial yang selanjutnya mendorong salah satu pihak mengambil sikap untuk mengkritisi emosi pasangannya secara sepihak. Latar belakang individul dari masing-masing pasangan juga berperan mendorong terjadinya konflik yang selanjutnya berujung pada pengambilan keputusan yang sifatnya sangat emosional. Seringkali terjadi, setelah semua berlalu, maka terbuka kemungkinan timbulnya penyesalan di kemudian hari.
Jika memang ada pikiran untuk kembali kepada mantan, maka apa yang sebaiknya dilakukan? Evaluasi dan instrospeksi diri adalah yang paling pertama dilakukan oleh pihak yang mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan di masa lalu dan sekaligus mencoba untuk kembali.
MEMPERTIMBANGKAN PADA FAKTOR PERASAAN
Aspek dari hubungan relationship yang paling penting adalah rasa. Terjaganya atau langgengnya suatu hubungan lebih banyak didasarkan pada aspek perasaan individu. Sesuatu yang tidak terlihat, tidak dapat disentuh, tidak terlihat, tidak berbau, akan tetapi nyata ada dalam diri setiap individu. Jika diambil dari kata dasarnya, yaitu ‘rasa’, maka bentuk perasaan ini bisa bermacam-macam, seperti rasa sayang, rasa benci, rasa suka, jengkel, jenuh, bosan, gembira, bahagia, dan lain-lain. Kesemuanya menyangkut perasaan selalu didasarkan pada satu atau lebih alasan, seperti interaksi di masa lalu baik berupa ucapan ataupun tindakan/perbuatan. Sejauh ini, belum ada metode yang absolut untuk mengukur rasa ataupun perasaan. Oleh karena itu, ukurannya hanyalah ada atau tidak rasa itu. Jika ada, maka hanya bisa dijelaskan sifatnya seperti manis atau pahit, indah atau buruk, tenang atau gelisah, dan sebagainya.
Pada umumnya, dan pada kebanyakan kasus relationship, adanya pikiran untuk kembali kepada mantan dilatarbelakangi oleh faktor rasa atau perasaan. Ada benarnya apabila perasaan terdahulu tidak akan pernah bisa hilang begitu saja. Kondisi seperti bukan karena tanpa sebab atau kondisi perasaan yang tersisa sebagai akibat adanya sesuatu yang belum selesai di masa lalu. Seringkali pula penyesalan melatarbelakangi timbulnya keinginan untuk kembali kepada mantan. Ada pula kemudian alasan yang tidak bisa dijelaskan seperti masih adanya rasa sayang kepada mantan yang kemudian membuka kemungkinan untuk mendorong seseorang berkeinginan kembali kepada mantan. Faktor rasa ataupun perasaan adalah satu fakta yang sulit untuk dihindarkan menjadi alasan bagi individu untuk berpikir ataupun berkeinginan kembali kepada mantannya terdahulu.
MEMPERTIMBANGKAN FAKTOR MISTERI
Ada satu faktor yang nampaknya sulit untuk didefinisikan, akan tetapi menjadi bagian dari motif seseorang untuk kembali kepada mantannya. Ada pepatah kuno yang mengatakan apabila seseorang akan lebih mencintai dan merindukan sesuatu yang tidak bisa dimiliki olehnya. Individu yang dulu pernah dekat di hati seseorang, lalu kemudian menghilang untuk beberapa lama akan mendorong timbulnya pertanyaan-pertanyaan dalam benak pikiran seseorang tersebut. Bentuknya bisa berupa kerinduan, kegelisahan, ataupun keinginan. Inilah yang disebut dengan faktor misteri. Adanya pikiran seseorang untuk kembali kepada mantannya terdahulu, salah satunya didasari oleh adanya faktor misteri.
Ada sebuah iklan kecil di suatu harian daerah yang isinya bertuliskan, “Kepada siapapun yang mengetahui keberadaan pihak yang bernama ………… (nama lengkap), berkelahiran ………… (tanggal/bulan/tahun), kuliah terakhir di ………….., angkatan ….. agar segera menghubungi ………………. (nama si pencari) di nomer ……………… (nomer kontak si pencari).
Dari informasi (iklan) di atas, Anda mungkin akan berpikir jika isinya berkaitan dengan orang hilang atau orang yang terlibat urusan bisnis (utang). Bisa jadi demikian, akan tetapi jangan kaget apabila informasi ini dilatarbelakangi usaha untuk kembali kepada mantan dari si pengirim pesan tersebut. Informasi di atas belumlah lengkap (utuh) dan hanya menyajikan identitas. Kalimat selanjutnya yang dituliskan bersamaan dengan informasi tersebut semakin memperkuat motif dari si pengirim pesan, yaitu ajakan atau bujukan untuk rujuk. Pada umumnya, si pengirim pesan beranggapan dirinya telah kehilangan kontak ataupun cara untuk mencaritahu keberadaan seseorang yang dulu pernah dekat di hatinya.
Pada banyak kisah relationship, pemutusan hubungan, apapun alasannya menyebabkan salah satunya komunikasi di antara kedua belah terputus. Seiring dengan berubahnya situasi dan lingkungan menyebabkan masing-masing pihak tidak mengetahui sama sekali kabar terakhir dari mantannya. Dalam situasi seperti ini, tidak tertutup kemungkinan timbul rasa kehilangan. Faktor misteri seperti inilah yang tidak tertutup kemungkinan pula akan semakin mendorong timbulnya keinginan seseorang untuk kembali kepada mantannya terdahulu.
SINGKIRKAN EGO
Situasi seperti perasaan yang tersisa dan faktor misteri ataupun faktor pikiran lainnya sudah cukup menjadi alasan yang menimbulkan adanya keinginan seseorang untuk kembali kepada mantannya. Pada kebanyakan kisah relationship, faktor perasaan sudah cukup kuat menjadi alasan yang mendasari keinginan untuk kembali. Perlu diketahui, sampai di sini hanya terhenti pada keinginan, belum mencapai pada tindakan untuk merealisasikan. Faktor yang seringkali menahan realisasi dari keinginan untuk kembali adalah ego.
Tidak seorang pun yang mau dirinya disalahkan, merasa kalah, ataupun merasa terpojok. Jarang sekali seseorang yang secara jujur mengakui jika dirinya telah melakukan kesalahan ataupun merasa sudah tidak memiliki pilihan. Kebanyakan orang akan beranggapan jika dirinya adalah benar dalam situasi apapun. Inilah yang disebut ego. Suatu pikiran yang wajar dimiliki oleh setiap orang, akan tetapi kurang baik jika terus dipertahankan.
Jika timbul keinginan dari seseorang untuk kembali kepada mantannya, maka langkah pertama yang harus dikedepankan adalah menyingkirkan ego terlebih dahulu. Langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk melakukan evaluasi dan instrospeksi diri. Tidak ada yang salah di antara kedua belah pihak untuk saat ini. Jikapun ada yang harus disalahkan, maka kedua belah pihak patut untuk disalahkan karena tidak mengambil sikap untuk dewasa. Kedua belah pihak bisa dibenarkan, akan tetapi benar secara individu, bukan untuk kedua belah pihak. Sekalipun ada kesepakatan, pemutusan hubungan sudah pasti bersifat sebelah pihak di mana keinginan dari satu pihak tidak serta merta diikuti oleh keinginan pihak yang lainnya. Jikapun harus mengikuti ego, bisa dibenarkan sejauh bisa menjawab alasan mengapa harus dipertahankan.
Mempertahankan ego hanya akan menutup sisi baik dari perbuatan dan pikiran seseorang. Ada waktunya di mana ego harus dipertahankan, dan ada waktunya pula ego menjadi tidak perlu untuk diikuti. Ego hanya akan membuat seseorang merasa bersalah dan tidak tertutup kemungkinan akan menjadi kekecewaan terbesar. Jika saja perasaan tidak rasional, maka ego jauh dari apa yang disebut rasional. Kemauan untuk menyingkirkan ego, adalah bagian dari usaha untuk menjadikan diri semakin dewasa. Pada akhirnya, kedewasaan itu sendiri akan meningkatkan kualitas emosi atau kualitas seseorang. Mereka yang hidup dengan berlama-lama dengan ego hanyalah mereka yang akan selalu tertinggal jauh dari apa yang disebut menjadi lebih baik di kemudian hari.
Ada suatu nasehat kuno yang nampaknya bisa menjelaskan perlu atau tidaknya mempertahankan ego:
“Lebih baik kehilangan harga diri bersama orang yang dicintai, ketimbang kehilangan orang yang dicintai hanya karena mempertahankan ego”
(Yogyakarta, 28 Juli 2008)