KEMBALI KEPADA MANTAN, PERLUKAH? (Bagian Pertama)

Pertanyaan ini tentunya lebih tepat ditanyakan kepada mereka yang pertama memutuskan hubungan, bukan mereka yang diputuskan hubungannya. Ada banyak sebab, alasan, atau pertimbangan mengapa seseorang mengambil keputusan untuk menghentikan suatu hubungan. Dalam dunia nyata, seringkali pengambilan keputusan untuk memutuskan suatu relationship lebih banyak menghasilkan suatu kekecewaan ketimbang apa yang disebut sesuatu yang lebih baik. Tulisan ini merupakan hasil interview dari beberapa pihak yang penulis definisikan sebagai pihak yang mengaku memutuskan suatu hubungan.

Suatu keputusan untuk menghentikan relationship memiliki dua pengertian yang perlu dipahami terlebih dahulu. Pengertian pertama, pemutusan hubungan kedua belah pihak yang sifatnya sementara. Kejadian seperti ini bisa didasarkan atas kesepakatan di antara kedua belah pihak ataupun tanpa melalui kesepakatan, atau lebih tepat hanya didasarkan pada keputusan sepihak. Pengertian kedua, pemutusan hubngan di antara kedua belah pihak yang sifatnya permanen. Pada pengertian kedua ini, bisa atas dasar kesepakatan di antara kedua belah pihak, bisa pula tidak ada kesepakatan sama sekali. Apapun bentuknya, kemungkinan berubahnya pikiran untuk kembali kepada masa lalu akan selalu terbuka.

Pada kebanyakan kasus, pemutusan hubungan relationship lebih banyak didasarkan pada pertimbangan yang bersifat emosional. Konflik yang mendasarinya pun seringkali bersifat insidensial yang selanjutnya mendorong salah satu pihak mengambil sikap untuk mengkritisi emosi pasangannya secara sepihak. Latar belakang individul dari masing-masing pasangan juga berperan mendorong terjadinya konflik yang selanjutnya berujung pada pengambilan keputusan yang sifatnya sangat emosional. Seringkali terjadi, setelah semua berlalu, maka terbuka kemungkinan timbulnya penyesalan di kemudian hari.

Jika memang ada pikiran untuk kembali kepada mantan, maka apa yang sebaiknya dilakukan? Evaluasi dan instrospeksi diri adalah yang paling pertama dilakukan oleh pihak yang mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan di masa lalu dan sekaligus mencoba untuk kembali.

MEMPERTIMBANGKAN PADA FAKTOR PERASAAN
Aspek dari hubungan relationship yang paling penting adalah rasa. Terjaganya atau langgengnya suatu hubungan lebih banyak didasarkan pada aspek perasaan individu. Sesuatu yang tidak terlihat, tidak dapat disentuh, tidak terlihat, tidak berbau, akan tetapi nyata ada dalam diri setiap individu. Jika diambil dari kata dasarnya, yaitu ‘rasa’, maka bentuk perasaan ini bisa bermacam-macam, seperti rasa sayang, rasa benci, rasa suka, jengkel, jenuh, bosan, gembira, bahagia, dan lain-lain. Kesemuanya menyangkut perasaan selalu didasarkan pada satu atau lebih alasan, seperti interaksi di masa lalu baik berupa ucapan ataupun tindakan/perbuatan. Sejauh ini, belum ada metode yang absolut untuk mengukur rasa ataupun perasaan. Oleh karena itu, ukurannya hanyalah ada atau tidak rasa itu. Jika ada, maka hanya bisa dijelaskan sifatnya seperti manis atau pahit, indah atau buruk, tenang atau gelisah, dan sebagainya.

Pada umumnya, dan pada kebanyakan kasus relationship, adanya pikiran untuk kembali kepada mantan dilatarbelakangi oleh faktor rasa atau perasaan. Ada benarnya apabila perasaan terdahulu tidak akan pernah bisa hilang begitu saja. Kondisi seperti bukan karena tanpa sebab atau kondisi perasaan yang tersisa sebagai akibat adanya sesuatu yang belum selesai di masa lalu. Seringkali pula penyesalan melatarbelakangi timbulnya keinginan untuk kembali kepada mantan. Ada pula kemudian alasan yang tidak bisa dijelaskan seperti masih adanya rasa sayang kepada mantan yang kemudian membuka kemungkinan untuk mendorong seseorang berkeinginan kembali kepada mantan. Faktor rasa ataupun perasaan adalah satu fakta yang sulit untuk dihindarkan menjadi alasan bagi individu untuk berpikir ataupun berkeinginan kembali kepada mantannya terdahulu.

MEMPERTIMBANGKAN FAKTOR MISTERI
Ada satu faktor yang nampaknya sulit untuk didefinisikan, akan tetapi menjadi bagian dari motif seseorang untuk kembali kepada mantannya. Ada pepatah kuno yang mengatakan apabila seseorang akan lebih mencintai dan merindukan sesuatu yang tidak bisa dimiliki olehnya. Individu yang dulu pernah dekat di hati seseorang, lalu kemudian menghilang untuk beberapa lama akan mendorong timbulnya pertanyaan-pertanyaan dalam benak pikiran seseorang tersebut. Bentuknya bisa berupa kerinduan, kegelisahan, ataupun keinginan. Inilah yang disebut dengan faktor misteri. Adanya pikiran seseorang untuk kembali kepada mantannya terdahulu, salah satunya didasari oleh adanya faktor misteri.

Ada sebuah iklan kecil di suatu harian daerah yang isinya bertuliskan, “Kepada siapapun yang mengetahui keberadaan pihak yang bernama ………… (nama lengkap), berkelahiran ………… (tanggal/bulan/tahun), kuliah terakhir di ………….., angkatan ….. agar segera menghubungi ………………. (nama si pencari) di nomer ……………… (nomer kontak si pencari).

Dari informasi (iklan) di atas, Anda mungkin akan berpikir jika isinya berkaitan dengan orang hilang atau orang yang terlibat urusan bisnis (utang). Bisa jadi demikian, akan tetapi jangan kaget apabila informasi ini dilatarbelakangi usaha untuk kembali kepada mantan dari si pengirim pesan tersebut. Informasi di atas belumlah lengkap (utuh) dan hanya menyajikan identitas. Kalimat selanjutnya yang dituliskan bersamaan dengan informasi tersebut semakin memperkuat motif dari si pengirim pesan, yaitu ajakan atau bujukan untuk rujuk. Pada umumnya, si pengirim pesan beranggapan dirinya telah kehilangan kontak ataupun cara untuk mencaritahu keberadaan seseorang yang dulu pernah dekat di hatinya.

Pada banyak kisah relationship, pemutusan hubungan, apapun alasannya menyebabkan salah satunya komunikasi di antara kedua belah terputus. Seiring dengan berubahnya situasi dan lingkungan menyebabkan masing-masing pihak tidak mengetahui sama sekali kabar terakhir dari mantannya. Dalam situasi seperti ini, tidak tertutup kemungkinan timbul rasa kehilangan. Faktor misteri seperti inilah yang tidak tertutup kemungkinan pula akan semakin mendorong timbulnya keinginan seseorang untuk kembali kepada mantannya terdahulu.

SINGKIRKAN EGO
Situasi seperti perasaan yang tersisa dan faktor misteri ataupun faktor pikiran lainnya sudah cukup menjadi alasan yang menimbulkan adanya keinginan seseorang untuk kembali kepada mantannya. Pada kebanyakan kisah relationship, faktor perasaan sudah cukup kuat menjadi alasan yang mendasari keinginan untuk kembali. Perlu diketahui, sampai di sini hanya terhenti pada keinginan, belum mencapai pada tindakan untuk merealisasikan. Faktor yang seringkali menahan realisasi dari keinginan untuk kembali adalah ego.

Tidak seorang pun yang mau dirinya disalahkan, merasa kalah, ataupun merasa terpojok. Jarang sekali seseorang yang secara jujur mengakui jika dirinya telah melakukan kesalahan ataupun merasa sudah tidak memiliki pilihan. Kebanyakan orang akan beranggapan jika dirinya adalah benar dalam situasi apapun. Inilah yang disebut ego. Suatu pikiran yang wajar dimiliki oleh setiap orang, akan tetapi kurang baik jika terus dipertahankan.

Jika timbul keinginan dari seseorang untuk kembali kepada mantannya, maka langkah pertama yang harus dikedepankan adalah menyingkirkan ego terlebih dahulu. Langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk melakukan evaluasi dan instrospeksi diri. Tidak ada yang salah di antara kedua belah pihak untuk saat ini. Jikapun ada yang harus disalahkan, maka kedua belah pihak patut untuk disalahkan karena tidak mengambil sikap untuk dewasa. Kedua belah pihak bisa dibenarkan, akan tetapi benar secara individu, bukan untuk kedua belah pihak. Sekalipun ada kesepakatan, pemutusan hubungan sudah pasti bersifat sebelah pihak di mana keinginan dari satu pihak tidak serta merta diikuti oleh keinginan pihak yang lainnya. Jikapun harus mengikuti ego, bisa dibenarkan sejauh bisa menjawab alasan mengapa harus dipertahankan.

Mempertahankan ego hanya akan menutup sisi baik dari perbuatan dan pikiran seseorang. Ada waktunya di mana ego harus dipertahankan, dan ada waktunya pula ego menjadi tidak perlu untuk diikuti. Ego hanya akan membuat seseorang merasa bersalah dan tidak tertutup kemungkinan akan menjadi kekecewaan terbesar. Jika saja perasaan tidak rasional, maka ego jauh dari apa yang disebut rasional. Kemauan untuk menyingkirkan ego, adalah bagian dari usaha untuk menjadikan diri semakin dewasa. Pada akhirnya, kedewasaan itu sendiri akan meningkatkan kualitas emosi atau kualitas seseorang. Mereka yang hidup dengan berlama-lama dengan ego hanyalah mereka yang akan selalu tertinggal jauh dari apa yang disebut menjadi lebih baik di kemudian hari.

Ada suatu nasehat kuno yang nampaknya bisa menjelaskan perlu atau tidaknya mempertahankan ego:

Lebih baik kehilangan harga diri bersama orang yang dicintai, ketimbang kehilangan orang yang dicintai hanya karena mempertahankan ego

(Yogyakarta, 28 Juli 2008)

JANGAN PERNAH MINTA WANITA UNTUK SETIA

Apa itu kesetiaan? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kesetiaan memiliki kata dasar ‘setia’, yang berarti kemauan untuk mengabdikan dirinya secara utuh kepada sesuatu ataupun seseorang di luar dirinya sendiri. Dalam relationship, setia seringkali dihubungkan dengan kemauan dari masing-masing individu untuk mengabdikan dirinya kepada pasangannya (pacar/kekasih atau suami/istri). Ada cukup banyak ditemukan kesalahan dalam penafsiran setia dalam masing-masing individu selama masa relationship.

Kondisi Dasar
Fakta statistik berbicara jika jumlah kelompok individu yang berjenis kelamin wanita jauh lebih besar ketimbang kelompok individu yang berjenis kelamin pria. Sekalipun fakta ini sudah seringkali diperdengarkan, masih banyak di antara masyarakat yang sering tidak mengerti fakta yang sesungguhnya dari informasi tersebut.

Proporsi antara jumlah pria dan wanita akan berpengaruh pada cara berpikir dari masing-masing pihak untuk mendapatkan calon pasangan hidup. Karena proporsinya jauh lebih besar, maka persaingan untuk mendapatkan calon pasangan hidup pada kelompok wanita akan jauh lebih ketat dibandingkan kelompok berjenis kelamin pria. Oleh karenanya, wanita akan lebih bersifat terbuka tidak hanya kepada satu pria, akan tetapi lebih dari satu pria. Artinya, akan lebih baik apabila wanita memiliki pilihan lebih daripada 1, ketimbang hanya bergantung pada 1 pilihan.

Kondisi dasar lainnya yang mendorong keputusan ataupun cara berpikir wanita adalah kondisi fisik, yaitu alur biologis yang terdapat pada tubuhnya. Wanita memiliki organ kelamin yang di dalamnya terdapat apa yang disebut sel telur. Bagian dari sel telur ini mengalami siklus mulai dari masa pematangan, pembuahan, dan kemudian masa sel telur pecah (haid). Siklus ini terus berulang dan memiliki batas waktu (kadaluwarsa). Sayangnya, banyak di antara mereka (pria) yang tidak memahami siklus wanita yang terlihat cukup rumit.

Siklus biologis yang terdapat pada diri wanita sesungguhnya akan berpengaruh kepada cara berpikir, bertindak, dan pengambilan keputusan. Semakin bertambah usia seorang wanita, maka akan semakin bertambah pula tekanan psikis pada dirinya sendiri. Tekanan psikis bersumber pada status secara legal (sah) yang menandakan pengakuan fungsi biologis yang terdapat pada organ kelamin wanita. Oleh karenanya, seringkali wanita akan merasa lebih tenang apabila dirinya telah menikah.

Faktor lain yang juga cukup berpengaruh pada cara berpikir wanita adalah naluri untuk mempertahankan dan meneruskan generasi. Jika fungsi organ kelamin sudah diakui secara legal melalui pernikahan, maka pikiran selanjutnya adalah dengan apa kelak generasi yang mereka berikan dapat dibesarkan. Jangan pernah heran apabila wanita akan lebih mengutamakan faktor materi sebagai pertimbangan dalam memilih calon pasangan hidupnya. Naluri keibuan wanita mendorongnya untuk memilih pasangan yang diyakini mampu menjamin secara ekonomi bagi kepentingan untuk membesarkan calon generasi yang akan dia berikan kepada dunia.

Dari ketiga kondisi dasar di atas, dapat disimpulkan apabila kesetiaan yang ada pada diri wanita untuk pasangan hidupnya bersifat relatif dan bukan sesuatu yang mutlak. Wanita hanya bisa setia kepada pasangannya apabila telah terjamin secara mutlak status sosial dan status ekonominya.

Apa Yang Kemudian Dipikirkan Wanita?
Dalam mencari dan menentukan pasangan hidupnya, wanita akan membuat sebuah daftar yang berisikan nama-nama pria yang bakal menjadi pasangan hidupnya kelak. Sekalipun saat itu si wanita sudah memiliki pasangan yang disebut pacar/kekasih, akan tetapi individu ini hanyalah salah satu dari sekian nama-nama calon pria yang akan mendampinginya. Cadangan? Bisa disebut demikian, dan nampaknya cukup tepat untuk menyebutkannya.

Apakah ini salah atau kurang baik? Justru sebaliknya, ini baik buat mereka (wanita) dan para pria semestinya bisa untuk memahami.

Mungkin para pria yang sekarang ini memiliki pacar tidak mengetahui apabila pasangannya sesungguhnya sudah membuat daftar nama-nama pria lain. Ditambah lagi dengan semakin meluasnya penggunaan internet, maka akan semakin mempermudah wanita dalam membuat daftar pria-pria calon pasangan hidupnya kelak. Apabila Anda menengok statistik member pada sebuah jaringan situs perkenalan atau disebut social bookmarking, maka member yang paling banyak dan paling aktif adalah member yang berjenis kelamin wanita. Anda perhatikan lagi lebih detail ke dalamnya. Ada beberapa mereka yang menuliskan statusnya ‘in relationship’, akan tetapi masih menunjukkan sikap untuk membuka pintu kepada pria-pria baru yang ingin berkenalan, ataupun hanya sekedar menggoda. Bahkan tidak jarang pula mereka (wanita) yang menuliskan statusnya ‘Married’, akan tetapi masih terus aktif untuk menunjukkan aksi untuk membuka pintu kepada pria-pria lain.

Perilaku seperti itu bukanlah suatu fenomena akan tetapi adalah perilaku wajar dan alami yang terdapat pada wanita. Kegelisahan yang bersumber dari kondisi dasar wanita itulah yang menjadi penyebab mengapa mereka masih merajut jaring-jaring pesona pada dirinya. Tanpa disadari, mereka sesungguhnya menggunakan strategi pemasaran untuk menarik minat pria-pria. Dalam hal ini, mereka (wanita) adalah makhluk yang sangat pembelajar dan mau belajar. Anda jangan heran apabila kualitas pemasaran yang mereka gunakan sesungguhnya sekelas dengan pemasar-pemasar global yang pernah sukses di dunia bisnis. Jangan pernah meremehkan wanita untuk yang satu ini.

Jika saja wanita menganggap telah tercukupi apa yang selama ini menjadi kegelisahannya, maka kondisi ini akan ditandai dengan kemauannya untuk menutup pintu hati kepada siapapun. Mereka tidak akan sungkan mengatakan kepada siapapun pria yang mencoba untuk mendekatinya jika dirinya sudah menjadi milik pria lain. Mereka juga tidak akan terpengaruh dari pancingan emosi yang diberikan kepada pria karena hati maupun emosinya sudah utuh untuk pasangannya. Apabila Anda menengok situs perkenalan (social bookmarking), maka kondisi ini biasanya ditandai dengan frekuensi keaktifan yang semakin lama semakin berkurang. Ini apabila diasumsikan sebelumnya tidak terjadi perubahan pola hidup.

Bagaimana Menyikapinya?
Pria harus mencoba dan mau memahami karakter permasalahan hidup yang terdapat pada diri si wanita. Jangan sekalipun pernah mencoba atau berkeinginan untuk meminta, apalagi memaksakan pasangan yang belum dinikahi untuk menyatakan setia. Ini adalah suatu perbuatan yang bodoh dan konyol. Faktanya, wanita cenderung tidak suka apabila pasangannya meminta berkomitmen untuk setia. Ini sama saja dengan meminta wanita untuk sama sekali tidak memberikan kebebasan untuk hidup. Ini juga tidak beda dengan tindakan untuk menekan prinsip dari hak asasi manusia terutama hak untuk menentukan calon pasangan hidup.

Pria hanyalah cukup memberikan pengertian dan sebisa mungkin meyakinkan si wanita untuk menjalankan hidupnya seperti yang dia inginkan. Keputusan untuk menentukan calon pasangan hidup sepenuhnya ada di tangan wanita. Pria harus memberikan kesempatan bagi wanita untuk melakukan evaluasi sekaligus penilaian terhadap dirinya sendiri. Jangan pernah sekalipun mengatakan atau berbicara soal setia kepada mereka. Topik mengenai kesetiaan adalah topik yang paling tidak disukai oleh mereka. Topik tentang kesetiaan bagi mereka adalah privasi, dan topik ini barulah layak untuk dibicarakan apabila sudah menikah.

Yogyakarta, 1 Juli 2008

All You Need is Love!

There’s nothing you can do that can’t be done.
Nothing you can sing that can’t be sung.
Nothing you can say but you can learn how to play the game.
It’s easy.

Nothing you can make that can’t be made.
No one you can save that can’t be saved.
Nothing you can do but you can learn how to be you in time.
It’s easy.

All you need is love, love.
Love is all you need

Nothing you can know that isn’t known.
Nothing you can see that isn’t shown.
Nowhere you can be that isn’t where you’re meant to be.
It’s easy.

All you need is love, love.
Love is all you need

(The Beatles, Rubber Soul, 1965)
Written by Lennon-McCartney

Penggalan lirik di atas diambil dari lirik lagu ‘All You Need is Love’ yang dituliskan oleh John. John menggambarkan betapa sederhananya cinta menjawab semua persoalan umat manusia di dunia. Konon, dari lirik yang dituliskan oleh John inilah yang kemudian mendorongnya terlibat dengan aksi untuk menentang perang.

tunein?u=0&song_id=23498