MELUPAKAN MASA LALU? (NEW SCIENCES FACT INSIDE)

Seringkali kita mendengar nasehat yang katakan untuk melupakan atau meninggalkan masa lalu. Siapapun akan mengakui, kata-kata ini hanya berlaku dan hanya dikatakan sehubungan dengan sesuatu yang kurang menyenangkan di masa lalu. Tentunya, anjuran atau nasehat ini tidak berlaku apabila sesuatu di masa lalu adalah kejadian yang menyenangkan atau membahagiakan. Perbedaannya, jika pada kondisi yang pertama, dianjurkan untuk melupakan, sedangkan pada kondisi kedua justru tidak ada tindakan apapun. Persamaannya, keduanya adalah satu atau lebih peristiwa yang melewati masa hidup seseorang, dan keduanya pula sama-sama masuk dalam ingatan seseorang. Lalu, mengapa sampai ada anjuran untuk melupakan?

Suatu ketika Anda melewati sebuah gang yang belum pernah Anda lalui. Ada dua kemungkinan kejadian. Pertama, Anda bisa melewati gang tersebut tanpa tersesat. Kemungkinan kedua, Anda tersesat atau kesulitan untuk melewati jalur di gang tersebut. Bisa jadi pada kemungkinan kedua ini Anda mengalami kejadian yang kurang menyenangkan. Jika pada kemungkinan pertama, Anda tidak akan melakukan aksi apapun setelahnya, maka pada kemungkinan kedua, Anda dianjurkan untuk melupakan kejadian tersebut. Artinya, di sini Anda akan mengambil tindakan untuk tidak melupakan kesalahan yang sama sehingga membuat Anda tersesat. Ilustrasi ini tidak banyak beda dengan situasi melupakan masa lalu. Apakah seperti ini yang diharapkan?

Jika jawaban Anda adalah ‘Ya’, atau mengambil aksi untuk melupakan kejadian kurang menyenangkan tadi, maka ada dua kemungkinan kondisi yang akan Anda alami. Pertama, Anda tidak akan melewati gang itu, atau menjauhi segala sesuatu yang Anda kurang kenal dengan baik. Kondisi kedua, Anda berada dalam pikiran ekstra ketakutan dan ekstra hati-hati apabila suatu saat nanti melewati situasi yang serupa. Besar kemungkinan, Anda tidak akan pernah berani melakukannya karena adanya ketakutan terulangnya kesalahan yang sama. Jika yang dimaksudkan adalah anjuran untuk melupakan, maka seperti inilah kondisi yang akan Anda alami.

Fakta Sains
Fakta sains terbaru menemukan segala tindakan/aksi yang berusaha untuk memblokir peristiwa/kejadian kurang menyenangkan di masa lalu. Otak manusia memiliki fungsi merespon setiap peristiwa setiap saat (real time), menyimpannya, dan kemudian mengingat (uploading). Ketiga fungsi otak ini bisa dikendalikan secara sadar, akan tetapi bisa pula bekerja tanpa disadari oleh pemiliknya. Seperti fungsi otak untuk memuat data (uploading) tidak hanya bisa dilakukan secara sadar, akan tetapi bisa dilakukan tanpa sadar. Ini bukanlah suatu kesalahan moorfologis, akan tetapi seperti demikianlah fungsi dan kerja otak manusia yang normal (Ishani Ganguli, 2007).

Melupakan ingatan di masa lalu, berarti melakukan aksi untuk memblok fungsi otak yang tanpa sadar untuk memuatkan data. Menurut Ishani Ganguli (2007), tindakan ini dianggap sia-sia karena syaraf otak tersusun atas sel yang sangat halus dan bukan tergolong sebagai syaraf motorik. Itu sama saja Anda memiliki tangan, tapi dipaksakan untuk tidak berfungsi dengan sebagaimana mestinya. Fakta sains mengenai syaraf otak juga telah membuktikan jika fungsi pemuatan data tanpa sadar pada otak tidak dapat dihentikan atau diblokir, akan tetapi hanya dapat ditunda. Kajian dari Universitas Colorado tentang teori dari Sigmund Freud mengenai fungsi otak menemukan jika penundaan secara terus menerus akan menimbulkan efek psikis di mana salah satunya disebut trauma.

Para ahli berupaya untuk menghentikan fungsi kerja otak yang menyebabkan seseorang teringat kembali peristiwa kurang menyenangkan di masa lalu secara medis. Riset ini terutama dilakukan untuk prajurit perang yang mengalami trauma paska penugasan. Hingga sejauh ini, metode medis untuk memblokir fungsi otak untuk memuat data tanpa sadar dilakukan dengan obat-obatan psikotropika seperti narkotika, mariyuana, ganja, ekstasi, dan hingga alkohol (Jonathan Foster, 2003). Obat-obatan tersebut diyakini secara medis dapat menghentikan (sementara) efek traumatis akibat tindakan paksa untuk menghentikan fungsi pemuatan data (memori) otak secara paksa. Sekalipun demikian, tanpa diikuti terapi psikis yang tepat, metode pengobatan seperti ini akan sia-sia.

Otak manusia bukanlah seperti media penyimpan yang dapat mudah dihilangkan (delete) atau dimusnahkan. Otak manusia dan segala aktivitas yang terdapat di dalamnya berinteraksi dengan keseluruhan organ tubuh, termasuk juga dengan perasaan (emosi).

Meluruskan Anjuran
Anjuran ataupun nasehat untuk melupakan masa lalu untuk menjadi lebih baik di masa depan bukanlah anjuran yang keliru, akan tetapi perlu kiranya untuk dimaknai lebih mendalam. Ada yang menambahkan dengan belajar dari kesalahan di masa lalu, itu juga baik jika dan jika hanya bisa melengkapi. Permasalahannya, siapapun yang mengalaminya umumnya lebih terfokus pada kondisi untuk berupaya melupakan secara emosional. Lebih tepatnya, sebagian besar dan kebanyakan orang yang mengalami situasi seperti ini lebih merasakan keinginan untuk melupakan, akan tetapi tidak diikuti dengan kemauan pembelajaran. Ini adalah reaksi yang sangat alami karena pada kondisi ini, faktor emosi akan jauh lebih dominan.

Sigmund Freud menjelaskan tidak ada alasan untuk melawan memori karena hal itu sama saja akan semakin mempercepat proses traumatis pada diri seseorang. Ini berarti, segala bentuk pikiran dan tindakan untuk melawan (menghindar) dari masa lalu sama saja dengan upaya untuk melawan diri sendiri. Freud justru lebih menganjurkan untuk memanfaatkan fungsi tubuh yang dikombinasikan dengan unsur kejiwaan sebagai solusi alternatif. Fungsi otak adalah untuk berpikir, termasuk di dalamnya berpikir untuk memecahkan masalah. Ini berarti ketimbang harus bersusah payah melupakan masa lalu, akan lebih baik melakukan evaluasi dan sekaligus melakukan instrospeksi terhadap diri sendiri. Para pakar bahkan setuju apabila tidak dianjurkan bagi individu untuk melakukan aksi memblokir fungsi otak untuk alasan apapun (Regina Pally, 1995).

Dari fakta sains dan anjuran pakar, langkah awal berkaitan dengan masalah di masa lalu adalah menenangkan pikiran terlebih dahulu. Untuk ini, seseorang harus belajar untuk bisa melepaskan atau mengesampingkan ego terlebih dahulu. Bukan salah Anda apabila sampai tersesat ketika melewati gang yang baru saja Anda lewati. Bukan pula salah si pembuat gang apabila mereka membuatkannya untuk semua orang. Anda tidak akan bisa memahami dengan baik apa yang baru saja terjadi apabila Anda enggan untuk peduli mengapa Anda melakukannya dan bagaimana Anda melakukannya. Pada tahap melepaskan ego, barulah tahap awal dari apa yang nantinya disebut pembalajaran diri dan pendewasaan diri sendiri. Seseorang dianggap dewasa salah satunya apabila mampu menyelaraskan antara pikiran dan perasaannya.

Pada akhirnya, semua kembali kepada sikap dari masing-masing individu untuk menindaklanjuti. Kita semua menghargai apa yang disebut dengan proses, dan kita pun harus mengakui bahwa ada proses, maka juga harus ada progres (kemajuan). Kita harus pahami pula jika masa lalu tidak akan pernah bisa hilang dari ingatan, karena masa lalu selalu punya cara untuk menyelinap ke dalam pikiran kita. Baik atau buruk, itu semua adalah hasil perbuatan yang sudah di atur oleh Sang Pencipta, dan kita patut untuk mensyukurinya. Mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa juga menjadi bagian yang penting dari proses. Kualitas individu bukan dilihat dari hasil perbuatan, akan tetapi dilihat dari cara individu dalam menyelesaikannya di akhir sehingga menjadi sesuatu yang baru dan lebih baik di masa yang akan datang.

Referensi
Daniel L. Schacter, 2002, The Seven Sins of Memory, Houghton Mifflin Company Pub., New York.
Ishani Ganguli, 2007, Learning to Forget Your Unhappy Past, Reuter’s News in Science (link)
Jonathan Foster, 2003, Memory: Anatomical Regions, Physiological Networks and Cognitive Interactions,
Masson Pub, Rome (Italy).
Regina Pally, 1995, “Memory: Brain Systems That Link Past, Present And Future”, International Journal of
Psycho-Analysis, No 78 (1223-1234).
Sigmund Freud, 1991, The Essentials of Psychoanalysis, Recover Edition, Penguin Pub., New York.

Advertisements

5 Karakter Wanita Calon Ibu Bagi Anak-Anakku

Aku percaya, suatu relationship akan membentuk cara berpikir dan karakter seseorang, atau mungkin juga orang lain. Relationship merupakan suatu cara untuk pemenuhan kebutuhan manusia yang paling dasar, yaitu kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain. Sebagai makhluk sosial, manusia selalu merasa dirinya menjadi bagian dari sekelompok orang, maupun seseorang yang berada di luar dirinya atau lingkungannya sendiri. Jika mau disebut sebagai proses, apapun yang terjadi dalam relationship, setiap orang berhak dan layak untuk mendapatkan pasangan yang tepat untuk dirinya sendiri.

Seorang teman memberikan pandangan tentang seseorang yang disebut tepat menjadi pasangan hidup. Soal seiman atau taat beribadah, ini sudah menjadi pedoman yang tidak bisa ditawar lagi. Tapi soal sehati, masih sangat sulit untuk bisa menebaknya. Berpedoman pada keistimewaan hati wanita, aku menentukan 5 karakter yang akan aku cari dari wanita yang suatu saat nanti akan menjadi ibu dari anak-anakku.

Kriteria Dapat Dipercaya (Thrustworthy)
Sejarah telah mencatat dan membuktikan jika wanita adalah salah satu dari godaan dunia. Jika pria penggoda harus beraksi, maka wanita hanyalah cukup diam. Tidak hanya itu, hati wanita juga bisa mudah untuk berubah mengikuti pikirannya. Sulit sekali dan bahkan sebaiknya tidak perlu terlalu memaksakan suatu kesetiaan kepada wanita yang belum dinikahi. Karakter penggoda ditambah hati yang bisa mudah berubah menyebabkan kesetiaan adalah suatu pelajaran yang sangat mahal. Namun, dibalik semua itu wanita memiliki keistimewaan untuk mampu membalikkan keadaan.

Aku menempatkan kriteria “Dapat Dipercaya” pada urutan pertama mengingat salah satu kondisi penting untuk mewujudkan cinta sejati adalah kepercayaan. Jika nanti menjadi istri dan sekaligus ibu rumah tangga, maka wanita adalah benteng moral terakhir. Inilah mengapa Islam selalu menyebutkan wanita sebagai pakaian suami. Baik tidaknya moral dari rumah tangga, sangat besar sekali ditentukan oleh dapat dipercaya atau tidaknya wanita yang ada di rumah. Bagaimana dengan pria? Jika suatu saat nanti berumah tangga, pria umumnya terlalu sibuk untuk mengurus kebutuhan ekonomi keluarga sehingga kontribusi pria ke dalam rumah tangga tidak akan banyak berarti jika tidak didukung oleh pihak wanita (istri).

Kriteria Pemberi (Givers)
Salah satu keisitimewaan penciptaan wanita adalah karakter pemberi (giver) yang ada pada dirinya. Suatu karakter penciptaan yang teramat istimewa sehingga menjadikan wanita mewakili hukum pelestarian secara universal. Dari karakter fisik yang istimewa ini, wanita memiliki sifat dan karakter pemberi (givers) kepada siapapun yang dia sayangi dan cintai.

Penting kiranya kriteria pemberi (givers) ditempatkan pada urutan kedua karena keistimewaan secara fisik dari wanita. Jika wanita sudah jatuh cinta, maka sudah menjadi kodrat pembawaannya untuk mau memberikan segala sesuatunya kepada siapapun yang dicintainya. Tidak perlu berpikir jauh tentang seks, cukuplah berpikir tentang sifat perhatian dan peduli. Kriteria ini haruslah mutlak pula ada pada wanita yang aku pilih. Jika suatu saat nanti telah menikah, maka sifat pemberi ini akan lebih banyak diberikan kepada anak-anaknya. Jika saja ketika sebelum menikah (berpacaran) sifat pemberi sudah meragukan, besar kemungkinan ketika menikah nanti wanita ini tidak banyak peduli dengan anak-anaknya sendiri. Anda harus menjadi insiator dan sekaligus memotivasi wanita yang Anda cintai untuk mau menjalankan fungsi kriteria memberi dengan cara memberikan kesempatan kepadanya untuk melakukannya. Jika yang dimaksudkan adalah soal seks, benar sekali wanita akan memberikan tubuhnya kepada dan hanya kepada pria yang dicintai. Namun, lebih dari itu aku harus berpikir pula jika suatu saat ketika menikah, rasa cintanya akan lebih banyak diberikan kepada anak-anaknya.

Kriteria Fleksibel (Flexible)
Seperti kita ketahui, relationship tidak hanya akan berjalan datar, tapi besar kemungkinan pula menjadi dinamis. Hal ini mengikuti karakter biologis wanita yang selalu dipengaruhi oleh masa pematangan indung telur. Di masa subur, wanita akan cenderung dekat dan suka jika berinteraksi secara emosional dengan pria. Di kala masa haid, wanita akan cenderung kurang suka apabila berinteraksi secara emosional dengan pria. Oleh karenanya, wanita diberikan keistimewaan kendali diri ataupun kontrol emosi yang sifatnya fleksibel. Artinya, jika suatu saat wanita menjauh, maka ketika masanya berlalu, wanita bisa pula untuk mendekat kembali.

Sekalipun berada pada urutan ketiga, kriteria fleksibel termasuk yang paling sulit dilakukan oleh kebanyakan wanita. Seringkali dalam suatu relationship, terjadi suatu komunikasi yang stagnan karena sesuatu hal. Pada kondisi ini, tidak jarang wanita akan mengeluarkan suatu pernyataan yang terlihat seolah seperti keputusan yang dramatis. Jika masanya telah berlalu, wanita akan tersadar dengan sendirinya dan kemudian akan terdorong untuk memperbaiki hubungan. Wanita yang baik, dan yang aku pilih adalah mereka yang memiliki kriteria untuk mengembalikan hubungan apabila berada dalam kondisi stagnan. Soal waktu bukan menjadi ukuran, akan tetapi kemauan yang paling utama.

Lalu, apa pentingnya kriteria ini? Jika sudah berumah tangga nanti, semakin fleksibel sifat dan pikiran dari wanita (pendamping hidup), maka akan semakin baik pula kemauannya untuk tetap menjaga keutuhan rumah tangganya sendiri. Dalam hal ini, wanita tersebut dinyatakan telah mampu mengesampingkan egonya demi sesuatu yang jauh lebih penting dan berharga, yaitu anak-anaknya dan suaminya.

Ketiga kriteria wanita pilihan di atas adalah kriteria yang paling utama dan dicari dari wanita yang Insya Allah akan menjadi ibu bagi anak-anakku kelak. Adalagi dua kriteria tambahan yang sifatnya opsional.

Kriteria “Enhancer”
“Enhance” dalam bahasa Indonesia diartikan segala sesuatu (tindakan/sikap) yang dapat mempertinggi nilai dari sesuatu yang lain. Kita tahu, dalam rumah tangga wanita adalah orang kedua di rumah. Fungsi wanita (istri) tidak semata untuk mengurus rumah ataupun memberikan dan membesarkan anak, akan tetapi juga punya peran moral yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Wanita yang baik adalah mereka yang punya cara berpikir, sikap, dan tindakan yang dapat menjadikan segala sesuatunya menjadi lebih berharga atau bernilai. Misal, sebelum bertemu wanita A, aku bukanlah apa-apa, akan tetapi setelah mencintainya, kini aku mampu menghasilkan sesuatu yang jauh lebih bernilai dari sebelumnya. Di sini, wanita A yang menjadi motivasi dan sekaligus sumber inspirasi aku untuk melakukan yang terbaik untuk hidupku.

Kriteria ‘Enhancer’ sekalipun bukan merupakan syarat utama, akan tetapi perlu ada dalam diri seorang wanita yang kelak akan menjadi orang kedua di rumah. Wanita pilihan setidaknya harus bisa menjadikan dirinya inspirasi dan sekaligus motivator bagi pasangannya untuk melakukan sesuatu yang lebih baik. Ini berarti, aku mencintai wanita pilihanku bukan semata karena fisik ataupun sekedar ungkapan perasaan atau nafsu, akan tetapi juga karena ingin menjadi lebih baik di kemudian hari.

Kriteria “Fucker”
Kriteria ini berhubungan dengan salah satu dari sekian banyak fungsi organ kelamin ataupun tubuh dari wanita, yaitu fungsi untuk memberikan kenikmatan secara seksual. Tubuh wanita memiliki fungsi yang sesungguhnya teramat rumit. Salah satunya pula adalah untuk menarik lawan jenis dan sekaligus untuk membangkitkan nafsu seksual. Jika tidak ada sedikitpun ketertarikan secara seksual, rasanya sulit membenarkan seseorang mencintai lawan jenisnya. Apabila Anda membaca literatur ataupun sumber tentang rahasia di balik hubungan intim, di situ Anda akan mengetahui benang merah kepuasan seksual yang terletak pada besarnya daya tarik seksual dari pihak si wanita yang diberikan kepada pria yang dicintainya.

Kriteria wanita pilihan yang satu ini sesungguhnya sangat bersifat opsional, akan tetapi tetap diperlukan. Cukup banyak kejadian ataupun kasus dalam rumah tangga di mana perselingkuhan ataupun perbuatan amoral lain di luar nikah bersumber dari minimnya kepuasan seksual yang diberikan oleh istri. Ada beberapa kemungkinan, bisa jadi dikarenakan faktor kesehatan, permasalahan psikis, dan selera. Oleh karenanya, sejak awal para pria, terutama diriku sendiri harus meyakinkan sendiri apabila calon wanita yang dipilih telah mampu memenuhi kriteria mampu mencukupi kebutuhan seksual dari lawan jenisnya. Kriteria ini sesungguhnya pula masih berhubungan dengan kriteria utama, yaitu kriteria pemberi (givers). Sekali lagi, kriteria ‘Fucker’ bersifat sangat opsional.

Alasan paling mendasar untuk menetapkan kelima kriteria wanita pilihan untuk menjadi ibu dari anak-anakku kelak, didasarkan pada motif menjaga keutuhan rumahtangga. Dalam hal ini, wanita adalah orang kedua di rumah yang memegang peranan sebagai benteng terakhir moral keluarga. Kelima kriteria di atas pada prinsipnya pula mengikuti naluri keibuan yang terdapat dalam diri seorang wanita, tidak semata hanya naluri kewanitaan. Anda mesti memahami jika kelima kriteria di atas tidak semata hanya untuk kepentinganku sendiri, akan tetapi yang paling penting adalah untuk anak-anakku, generasi yang kelak akan mengurus negara ini.

Yogyakarta, 16 Juni 2008

KEMBALI KEPADA MANTAN, PERLUKAH? (Bagian Pertama)

Pertanyaan ini tentunya lebih tepat ditanyakan kepada mereka yang pertama memutuskan hubungan, bukan mereka yang diputuskan hubungannya. Ada banyak sebab, alasan, atau pertimbangan mengapa seseorang mengambil keputusan untuk menghentikan suatu hubungan. Dalam dunia nyata, seringkali pengambilan keputusan untuk memutuskan suatu relationship lebih banyak menghasilkan suatu kekecewaan ketimbang apa yang disebut sesuatu yang lebih baik. Tulisan ini merupakan hasil interview dari beberapa pihak yang penulis definisikan sebagai pihak yang mengaku memutuskan suatu hubungan.

Suatu keputusan untuk menghentikan relationship memiliki dua pengertian yang perlu dipahami terlebih dahulu. Pengertian pertama, pemutusan hubungan kedua belah pihak yang sifatnya sementara. Kejadian seperti ini bisa didasarkan atas kesepakatan di antara kedua belah pihak ataupun tanpa melalui kesepakatan, atau lebih tepat hanya didasarkan pada keputusan sepihak. Pengertian kedua, pemutusan hubngan di antara kedua belah pihak yang sifatnya permanen. Pada pengertian kedua ini, bisa atas dasar kesepakatan di antara kedua belah pihak, bisa pula tidak ada kesepakatan sama sekali. Apapun bentuknya, kemungkinan berubahnya pikiran untuk kembali kepada masa lalu akan selalu terbuka.

Pada kebanyakan kasus, pemutusan hubungan relationship lebih banyak didasarkan pada pertimbangan yang bersifat emosional. Konflik yang mendasarinya pun seringkali bersifat insidensial yang selanjutnya mendorong salah satu pihak mengambil sikap untuk mengkritisi emosi pasangannya secara sepihak. Latar belakang individul dari masing-masing pasangan juga berperan mendorong terjadinya konflik yang selanjutnya berujung pada pengambilan keputusan yang sifatnya sangat emosional. Seringkali terjadi, setelah semua berlalu, maka terbuka kemungkinan timbulnya penyesalan di kemudian hari.

Jika memang ada pikiran untuk kembali kepada mantan, maka apa yang sebaiknya dilakukan? Evaluasi dan instrospeksi diri adalah yang paling pertama dilakukan oleh pihak yang mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan di masa lalu dan sekaligus mencoba untuk kembali.

MEMPERTIMBANGKAN PADA FAKTOR PERASAAN
Aspek dari hubungan relationship yang paling penting adalah rasa. Terjaganya atau langgengnya suatu hubungan lebih banyak didasarkan pada aspek perasaan individu. Sesuatu yang tidak terlihat, tidak dapat disentuh, tidak terlihat, tidak berbau, akan tetapi nyata ada dalam diri setiap individu. Jika diambil dari kata dasarnya, yaitu ‘rasa’, maka bentuk perasaan ini bisa bermacam-macam, seperti rasa sayang, rasa benci, rasa suka, jengkel, jenuh, bosan, gembira, bahagia, dan lain-lain. Kesemuanya menyangkut perasaan selalu didasarkan pada satu atau lebih alasan, seperti interaksi di masa lalu baik berupa ucapan ataupun tindakan/perbuatan. Sejauh ini, belum ada metode yang absolut untuk mengukur rasa ataupun perasaan. Oleh karena itu, ukurannya hanyalah ada atau tidak rasa itu. Jika ada, maka hanya bisa dijelaskan sifatnya seperti manis atau pahit, indah atau buruk, tenang atau gelisah, dan sebagainya.

Pada umumnya, dan pada kebanyakan kasus relationship, adanya pikiran untuk kembali kepada mantan dilatarbelakangi oleh faktor rasa atau perasaan. Ada benarnya apabila perasaan terdahulu tidak akan pernah bisa hilang begitu saja. Kondisi seperti bukan karena tanpa sebab atau kondisi perasaan yang tersisa sebagai akibat adanya sesuatu yang belum selesai di masa lalu. Seringkali pula penyesalan melatarbelakangi timbulnya keinginan untuk kembali kepada mantan. Ada pula kemudian alasan yang tidak bisa dijelaskan seperti masih adanya rasa sayang kepada mantan yang kemudian membuka kemungkinan untuk mendorong seseorang berkeinginan kembali kepada mantan. Faktor rasa ataupun perasaan adalah satu fakta yang sulit untuk dihindarkan menjadi alasan bagi individu untuk berpikir ataupun berkeinginan kembali kepada mantannya terdahulu.

MEMPERTIMBANGKAN FAKTOR MISTERI
Ada satu faktor yang nampaknya sulit untuk didefinisikan, akan tetapi menjadi bagian dari motif seseorang untuk kembali kepada mantannya. Ada pepatah kuno yang mengatakan apabila seseorang akan lebih mencintai dan merindukan sesuatu yang tidak bisa dimiliki olehnya. Individu yang dulu pernah dekat di hati seseorang, lalu kemudian menghilang untuk beberapa lama akan mendorong timbulnya pertanyaan-pertanyaan dalam benak pikiran seseorang tersebut. Bentuknya bisa berupa kerinduan, kegelisahan, ataupun keinginan. Inilah yang disebut dengan faktor misteri. Adanya pikiran seseorang untuk kembali kepada mantannya terdahulu, salah satunya didasari oleh adanya faktor misteri.

Ada sebuah iklan kecil di suatu harian daerah yang isinya bertuliskan, “Kepada siapapun yang mengetahui keberadaan pihak yang bernama ………… (nama lengkap), berkelahiran ………… (tanggal/bulan/tahun), kuliah terakhir di ………….., angkatan ….. agar segera menghubungi ………………. (nama si pencari) di nomer ……………… (nomer kontak si pencari).

Dari informasi (iklan) di atas, Anda mungkin akan berpikir jika isinya berkaitan dengan orang hilang atau orang yang terlibat urusan bisnis (utang). Bisa jadi demikian, akan tetapi jangan kaget apabila informasi ini dilatarbelakangi usaha untuk kembali kepada mantan dari si pengirim pesan tersebut. Informasi di atas belumlah lengkap (utuh) dan hanya menyajikan identitas. Kalimat selanjutnya yang dituliskan bersamaan dengan informasi tersebut semakin memperkuat motif dari si pengirim pesan, yaitu ajakan atau bujukan untuk rujuk. Pada umumnya, si pengirim pesan beranggapan dirinya telah kehilangan kontak ataupun cara untuk mencaritahu keberadaan seseorang yang dulu pernah dekat di hatinya.

Pada banyak kisah relationship, pemutusan hubungan, apapun alasannya menyebabkan salah satunya komunikasi di antara kedua belah terputus. Seiring dengan berubahnya situasi dan lingkungan menyebabkan masing-masing pihak tidak mengetahui sama sekali kabar terakhir dari mantannya. Dalam situasi seperti ini, tidak tertutup kemungkinan timbul rasa kehilangan. Faktor misteri seperti inilah yang tidak tertutup kemungkinan pula akan semakin mendorong timbulnya keinginan seseorang untuk kembali kepada mantannya terdahulu.

SINGKIRKAN EGO
Situasi seperti perasaan yang tersisa dan faktor misteri ataupun faktor pikiran lainnya sudah cukup menjadi alasan yang menimbulkan adanya keinginan seseorang untuk kembali kepada mantannya. Pada kebanyakan kisah relationship, faktor perasaan sudah cukup kuat menjadi alasan yang mendasari keinginan untuk kembali. Perlu diketahui, sampai di sini hanya terhenti pada keinginan, belum mencapai pada tindakan untuk merealisasikan. Faktor yang seringkali menahan realisasi dari keinginan untuk kembali adalah ego.

Tidak seorang pun yang mau dirinya disalahkan, merasa kalah, ataupun merasa terpojok. Jarang sekali seseorang yang secara jujur mengakui jika dirinya telah melakukan kesalahan ataupun merasa sudah tidak memiliki pilihan. Kebanyakan orang akan beranggapan jika dirinya adalah benar dalam situasi apapun. Inilah yang disebut ego. Suatu pikiran yang wajar dimiliki oleh setiap orang, akan tetapi kurang baik jika terus dipertahankan.

Jika timbul keinginan dari seseorang untuk kembali kepada mantannya, maka langkah pertama yang harus dikedepankan adalah menyingkirkan ego terlebih dahulu. Langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk melakukan evaluasi dan instrospeksi diri. Tidak ada yang salah di antara kedua belah pihak untuk saat ini. Jikapun ada yang harus disalahkan, maka kedua belah pihak patut untuk disalahkan karena tidak mengambil sikap untuk dewasa. Kedua belah pihak bisa dibenarkan, akan tetapi benar secara individu, bukan untuk kedua belah pihak. Sekalipun ada kesepakatan, pemutusan hubungan sudah pasti bersifat sebelah pihak di mana keinginan dari satu pihak tidak serta merta diikuti oleh keinginan pihak yang lainnya. Jikapun harus mengikuti ego, bisa dibenarkan sejauh bisa menjawab alasan mengapa harus dipertahankan.

Mempertahankan ego hanya akan menutup sisi baik dari perbuatan dan pikiran seseorang. Ada waktunya di mana ego harus dipertahankan, dan ada waktunya pula ego menjadi tidak perlu untuk diikuti. Ego hanya akan membuat seseorang merasa bersalah dan tidak tertutup kemungkinan akan menjadi kekecewaan terbesar. Jika saja perasaan tidak rasional, maka ego jauh dari apa yang disebut rasional. Kemauan untuk menyingkirkan ego, adalah bagian dari usaha untuk menjadikan diri semakin dewasa. Pada akhirnya, kedewasaan itu sendiri akan meningkatkan kualitas emosi atau kualitas seseorang. Mereka yang hidup dengan berlama-lama dengan ego hanyalah mereka yang akan selalu tertinggal jauh dari apa yang disebut menjadi lebih baik di kemudian hari.

Ada suatu nasehat kuno yang nampaknya bisa menjelaskan perlu atau tidaknya mempertahankan ego:

Lebih baik kehilangan harga diri bersama orang yang dicintai, ketimbang kehilangan orang yang dicintai hanya karena mempertahankan ego

(Yogyakarta, 28 Juli 2008)

JANGAN PERNAH MINTA WANITA UNTUK SETIA

Apa itu kesetiaan? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kesetiaan memiliki kata dasar ‘setia’, yang berarti kemauan untuk mengabdikan dirinya secara utuh kepada sesuatu ataupun seseorang di luar dirinya sendiri. Dalam relationship, setia seringkali dihubungkan dengan kemauan dari masing-masing individu untuk mengabdikan dirinya kepada pasangannya (pacar/kekasih atau suami/istri). Ada cukup banyak ditemukan kesalahan dalam penafsiran setia dalam masing-masing individu selama masa relationship.

Kondisi Dasar
Fakta statistik berbicara jika jumlah kelompok individu yang berjenis kelamin wanita jauh lebih besar ketimbang kelompok individu yang berjenis kelamin pria. Sekalipun fakta ini sudah seringkali diperdengarkan, masih banyak di antara masyarakat yang sering tidak mengerti fakta yang sesungguhnya dari informasi tersebut.

Proporsi antara jumlah pria dan wanita akan berpengaruh pada cara berpikir dari masing-masing pihak untuk mendapatkan calon pasangan hidup. Karena proporsinya jauh lebih besar, maka persaingan untuk mendapatkan calon pasangan hidup pada kelompok wanita akan jauh lebih ketat dibandingkan kelompok berjenis kelamin pria. Oleh karenanya, wanita akan lebih bersifat terbuka tidak hanya kepada satu pria, akan tetapi lebih dari satu pria. Artinya, akan lebih baik apabila wanita memiliki pilihan lebih daripada 1, ketimbang hanya bergantung pada 1 pilihan.

Kondisi dasar lainnya yang mendorong keputusan ataupun cara berpikir wanita adalah kondisi fisik, yaitu alur biologis yang terdapat pada tubuhnya. Wanita memiliki organ kelamin yang di dalamnya terdapat apa yang disebut sel telur. Bagian dari sel telur ini mengalami siklus mulai dari masa pematangan, pembuahan, dan kemudian masa sel telur pecah (haid). Siklus ini terus berulang dan memiliki batas waktu (kadaluwarsa). Sayangnya, banyak di antara mereka (pria) yang tidak memahami siklus wanita yang terlihat cukup rumit.

Siklus biologis yang terdapat pada diri wanita sesungguhnya akan berpengaruh kepada cara berpikir, bertindak, dan pengambilan keputusan. Semakin bertambah usia seorang wanita, maka akan semakin bertambah pula tekanan psikis pada dirinya sendiri. Tekanan psikis bersumber pada status secara legal (sah) yang menandakan pengakuan fungsi biologis yang terdapat pada organ kelamin wanita. Oleh karenanya, seringkali wanita akan merasa lebih tenang apabila dirinya telah menikah.

Faktor lain yang juga cukup berpengaruh pada cara berpikir wanita adalah naluri untuk mempertahankan dan meneruskan generasi. Jika fungsi organ kelamin sudah diakui secara legal melalui pernikahan, maka pikiran selanjutnya adalah dengan apa kelak generasi yang mereka berikan dapat dibesarkan. Jangan pernah heran apabila wanita akan lebih mengutamakan faktor materi sebagai pertimbangan dalam memilih calon pasangan hidupnya. Naluri keibuan wanita mendorongnya untuk memilih pasangan yang diyakini mampu menjamin secara ekonomi bagi kepentingan untuk membesarkan calon generasi yang akan dia berikan kepada dunia.

Dari ketiga kondisi dasar di atas, dapat disimpulkan apabila kesetiaan yang ada pada diri wanita untuk pasangan hidupnya bersifat relatif dan bukan sesuatu yang mutlak. Wanita hanya bisa setia kepada pasangannya apabila telah terjamin secara mutlak status sosial dan status ekonominya.

Apa Yang Kemudian Dipikirkan Wanita?
Dalam mencari dan menentukan pasangan hidupnya, wanita akan membuat sebuah daftar yang berisikan nama-nama pria yang bakal menjadi pasangan hidupnya kelak. Sekalipun saat itu si wanita sudah memiliki pasangan yang disebut pacar/kekasih, akan tetapi individu ini hanyalah salah satu dari sekian nama-nama calon pria yang akan mendampinginya. Cadangan? Bisa disebut demikian, dan nampaknya cukup tepat untuk menyebutkannya.

Apakah ini salah atau kurang baik? Justru sebaliknya, ini baik buat mereka (wanita) dan para pria semestinya bisa untuk memahami.

Mungkin para pria yang sekarang ini memiliki pacar tidak mengetahui apabila pasangannya sesungguhnya sudah membuat daftar nama-nama pria lain. Ditambah lagi dengan semakin meluasnya penggunaan internet, maka akan semakin mempermudah wanita dalam membuat daftar pria-pria calon pasangan hidupnya kelak. Apabila Anda menengok statistik member pada sebuah jaringan situs perkenalan atau disebut social bookmarking, maka member yang paling banyak dan paling aktif adalah member yang berjenis kelamin wanita. Anda perhatikan lagi lebih detail ke dalamnya. Ada beberapa mereka yang menuliskan statusnya ‘in relationship’, akan tetapi masih menunjukkan sikap untuk membuka pintu kepada pria-pria baru yang ingin berkenalan, ataupun hanya sekedar menggoda. Bahkan tidak jarang pula mereka (wanita) yang menuliskan statusnya ‘Married’, akan tetapi masih terus aktif untuk menunjukkan aksi untuk membuka pintu kepada pria-pria lain.

Perilaku seperti itu bukanlah suatu fenomena akan tetapi adalah perilaku wajar dan alami yang terdapat pada wanita. Kegelisahan yang bersumber dari kondisi dasar wanita itulah yang menjadi penyebab mengapa mereka masih merajut jaring-jaring pesona pada dirinya. Tanpa disadari, mereka sesungguhnya menggunakan strategi pemasaran untuk menarik minat pria-pria. Dalam hal ini, mereka (wanita) adalah makhluk yang sangat pembelajar dan mau belajar. Anda jangan heran apabila kualitas pemasaran yang mereka gunakan sesungguhnya sekelas dengan pemasar-pemasar global yang pernah sukses di dunia bisnis. Jangan pernah meremehkan wanita untuk yang satu ini.

Jika saja wanita menganggap telah tercukupi apa yang selama ini menjadi kegelisahannya, maka kondisi ini akan ditandai dengan kemauannya untuk menutup pintu hati kepada siapapun. Mereka tidak akan sungkan mengatakan kepada siapapun pria yang mencoba untuk mendekatinya jika dirinya sudah menjadi milik pria lain. Mereka juga tidak akan terpengaruh dari pancingan emosi yang diberikan kepada pria karena hati maupun emosinya sudah utuh untuk pasangannya. Apabila Anda menengok situs perkenalan (social bookmarking), maka kondisi ini biasanya ditandai dengan frekuensi keaktifan yang semakin lama semakin berkurang. Ini apabila diasumsikan sebelumnya tidak terjadi perubahan pola hidup.

Bagaimana Menyikapinya?
Pria harus mencoba dan mau memahami karakter permasalahan hidup yang terdapat pada diri si wanita. Jangan sekalipun pernah mencoba atau berkeinginan untuk meminta, apalagi memaksakan pasangan yang belum dinikahi untuk menyatakan setia. Ini adalah suatu perbuatan yang bodoh dan konyol. Faktanya, wanita cenderung tidak suka apabila pasangannya meminta berkomitmen untuk setia. Ini sama saja dengan meminta wanita untuk sama sekali tidak memberikan kebebasan untuk hidup. Ini juga tidak beda dengan tindakan untuk menekan prinsip dari hak asasi manusia terutama hak untuk menentukan calon pasangan hidup.

Pria hanyalah cukup memberikan pengertian dan sebisa mungkin meyakinkan si wanita untuk menjalankan hidupnya seperti yang dia inginkan. Keputusan untuk menentukan calon pasangan hidup sepenuhnya ada di tangan wanita. Pria harus memberikan kesempatan bagi wanita untuk melakukan evaluasi sekaligus penilaian terhadap dirinya sendiri. Jangan pernah sekalipun mengatakan atau berbicara soal setia kepada mereka. Topik mengenai kesetiaan adalah topik yang paling tidak disukai oleh mereka. Topik tentang kesetiaan bagi mereka adalah privasi, dan topik ini barulah layak untuk dibicarakan apabila sudah menikah.

Yogyakarta, 1 Juli 2008